Friday, September 14, 2018

Cara Mengenal Potensi Diri


Sumber: tribuna.md

Sudahkah Anda, para remaja, mengetahui dengan tepat dan pasti jenis potensi yang ada pada diri Anda? Salah satu dari berbagai jenis potensi pasti Anda miliki atau bahkan dua di antaranya ada pada diri Anda. Untuk meraih prestasi, kita tentunya harus mengenal atau mengetahui potensi yang kita miliki.
Usaha untuk mengenal atau mengetahui potensi tidak dapat dilakukan dengan cara sembarangan. Kita tidak dapat menilai potensi diri berdasarkan selera pribadi. Misalnya, hanya karena Anda menggandrungi musik, Anda lantas menyimpulkan bahwa potensi yang Anda miliki ada pada bidang musik. Atau, hanya karena teman Anda banyak yang menyukai jenis olahraga tertentu, Anda memaksakan diri untuk ikut-ikutan menyukainya kemudian memastikan bahwa potensi Anda ada pada bidang olahraga itu. Langkah seperti itu bukan cara yang tepat dalam menilai dan mengetahui potensi diri.
Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengetahui potensi diri tentu saja adalah menanamkan keinginan yang kuat dan serius untuk mengenal potensi diri sendiri. Setelah itu, kita harus mencoba mulai mengetahui potensi diri dengan jujur, objektif, dan realistis. Kita harus melihat dan menilai secara apa adanya kemudian berani dan bersedia menerimanya dengan apa adanya juga.
Itulah hal-hal yang paling harus diutamakan dalam mengetahui potensi diri. Adapun langkah-langkah terperinci dalam mengetahui potensi itu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berikut ini beberapa cara di antaranya.
·       Selama waktu tertentu, lakukan banyak kegiatan. Kegiatan yang dapat dipilih, antara lain, olahraga, seni, menulis (mengarang), dan kerajinan tangan. Dalam memilih kegiatan yang akan dilakukan, jangan terpancang pada kegiatan yang disukai saja.
·       Dari sekian kegiatan yang dilakukan, rasakan kegiatan yang paling cepat mengalami perkembangan dan kemajuan. Untuk keperluan ini, dapat dibuat daftar tertulis berisi kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan serta perkembangan dan kemajuan yang dicapai.
·       Mintalah pendapat kepada orang lain tentang kegiatan yang paling atau lebih menonjol dari sekian kegiatan yang dilakukan. Maksudnya,  menurut penilaian orang lain, kegiatan apa yang tampak menunjukkan kemampuan yang paling mengesankan dari sekian kegiatan yang kita lakukan. Orang lain yang dimintai pendapat terutama adalah teman satu kegiatan, sahabat karib, guru, orang tua, dan saudara.
·       Kegiatan yang lebih cepat mengalami perkembangan dan kemajuan serta menurut penilaian orang lain memperlihatkan kemampuan yang mengesankan kemungkinan menjadi potensi yang kita miliki. Lanjutkan kegiatan tersebut sambil terus merasakan perkembangan dan kemajuan yang dicapai serta meminta pendapat orang lain, sementara kegiatan-kegiatan lain yang tidak memperlihatkan perkembangan mengesankan dapat langsung ditinggalkan.
Empat upaya tersebut hanya merupakan alternatif yang dapat kita lakukan. Keempatnya masih dapat kita lengkapi dengan beberapa langkah lain. Langkah tambahan yang dapat dilakukan, antara lain, sebagai berikut:
·       mengenali diri sendiri dengan membuat daftar pertanyaan, seperti apa yang membuat kita bahagia, apa yang kita inginkan dalam hidup, apa kelebihan dan kekuatan kita, serta menjawab pertanyaan-pertanyan tersebut dengan jujur dan objektif;
·       menentukan tujuan hidup –– jangka pendek dan jangka panjang –– secara realistis, yakni sesuai dengan kemampuan dan keadaan yang dihadapi;
·       mengenali motivasi hidup dengan cara merasakan hal-hal apa yang membuat kita paling atau lebih terpacu untuk melakukan aktivitas tertentu;
·       menghilangkan kebiasaan berpikir negatif dengan tidak melemparkan kesalahan dan kelemahan kepada pihak lain, tetapi justru dijadikan bahan untuk evaluasi dan memperbaiki diri;
·       tidak menyesali dan mengadili diri sendiri berkepanjangan jika melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan, tetapi menjadikan keduanya (kesalahan atau kegagalan) sebagai penambah semangat.



Hambatan dalam Pengembangan Potensi



Sumber: www.viva.co.id
Mengembangkan potensi untuk meraih prestasi bukanlah usaha yang mudah dan sederhana. Dalam praktiknya, akan ditemui banyak kendala atau hambatan. Kian tinggi prestasi yang hendak diraih, makin besar pula hambatan yang biasanya menghadang. Mengatasi hambatan akan menjadi usaha lain yang harus dilakukan dalam upaya keseluruhan meraih prestasi.
Hambatan dalam pengembangan potensi akan bersifat internal dan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang muncul dari dalam diri sendiri, sedangkan hambatan eksternal muncul dari lingkungan sekitar. Kedua hambatan ini memiliki bentuk dan sifat yang berbeda.
1.  Hambatan dari Diri Sendiri
Apakah Anda pernah atau sering merasa malas, takut, cemas, bimbang, atau rendah diri saat akan melakukan sesuatu? Apakah kita selamanya akan merasa berambisi, tegar, dan yakin saat akan memulai kegiatan? Dapatkah kita selalu konsisten untuk merasa optimis bahwa kita akan mampu dan sukses dalam mewujudkan sesuatu?
Kiranya hampir tidak ada orang yang selamanya mampu bersikap optimis saat hendak memulai pekerjaan atau kegiatan. Merasa bimbang atau khawatir saat akan melakukan sesuatu adalah keadaan yang wajar dan manusiawi. Semua manusia pernah mengalaminya karena semua manusia pada dasarnya memiliki kelemahan.
Akan tetapi, itulah yang namanya hambatan yang muncul dari diri sendiri. Hambatan seperti itu datang dari dalam perasaan sendiri dan sering muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan enggan, cemas, tidak percaya diri, pesimis, dan sejenisnya mungkin saja muncul akibat adanya saingan yang berat, tidak adanya pendamping yang berkompeten, sulitnya tantangan yang dihadapi, dan sebagai-nya.
Namun, perasaan-perasaan negatif itu sebenarnya lebih merupakan bayangan semu karena sebelum kita terjun langsung dalam kancah persaingan, kita tidak akan pernah tahu keadaan yang sesungguhnya. Hambatan seperti itu memang seringkali muncul tanpa dikehendaki. Hambatan ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus datang mengganggu, tetapi harus diatasi (dihilangkan) jika kita menginginkan prestasi tinggi.
Bentuk hambatan lain yang dapat muncul dari dalam diri sendiri ialah perasaan melihat kemampuan diri yang terlalu tinggi. Kemampuan diri sendiri dinilai begitu besar dan tinggi sehingga apa yang akan dihadapi seolah-olah akan mudah ditaklukkan. Hal ini akan menimbulkan optimisme yang berlebihan, sikap arogan (congkak atau sombong), serta terlalu menganggap remeh orang lain dan tantangan yang akan dihadapi. Perasaan seperti ini jelas menjadi hambatan yang harus dikikis karena tidak akan dapat mendukung terwujudnya prestasi.
Optimisme berlebihan serta mengaggap dan menilai kemampuan diri begitu tinggi dan di atas orang lain biasanya terjadi pada seseorang yang pernah mengenyam prestasi tertentu. Pernah mencapai prestasi tertentu dengan mengalahkan para pesaing menyebabkan munculnya perasaan superior sehingga seolah-olah tidak ada orang yang dapat menandinginya lagi. Apalagi jika prestasi tersebut dapat diraih beberapa kali sekaligus, perasaan superior  itu dapat muncul lebih kuat lagi –– padahal, bisa jadi, masih banyak orang lain yang kemampuan dan prestasinya lebih tinggi tidak mengikuti persaingan yang dimaksud.
2. Hambatan dari Lingkungan
Apakah kehidupan di sekeliling kita senantiasa sejalan dengan keinginan kita? Mungkinkah kehidupan di sekitar rumah selalu memberi manfaat bagi upaya kita dalam mencapai sesuatu? Benarkah semua yang ada di dalam rumah kita dapat menolong kita dalam meraih keinginan? Benarkah pula pendidikan yang kita ikuti setiap hari selamanya dapat diandalkan memberi dukungan bagi pencapaian prestasi?
Lingkungan, yakni kehidupan di sekeliling kita, tidak selalu memberi pengaruh positif terhadap upaya meraih prestasi. Lingkungan memang dapat menjadi pendukung pencapaian prestasi. Akan tetapi,  banyak kasus menunjukkan bahwa lingkungan seringkali menjadi sumber datangnya hambatan. Televisi, misalnya, setiap hari menggoda kita untuk terus-menerus menontonnya hingga dapat menjadikan kita lalai untuk belajar dan berlatih. Hiruk-pikuk kehidupan di sekitar rumah dan sekolah juga sering membuat kita sulit untuk fokus dan berkonsentrasi. Bahkan, pendidikan di sekolah yang biasa kita ikuti pun kadang ada yang tidak sesuai dengan upaya menumbuhkan semangat berprestasi.
Rumah, sekolah, dan kampung kadang mendatangkan hambatan yang tidak kita duga. Sikap teman, guru, tetangga, bahkan juga orang tua dan saudara kadang tidak seperti yang diharapkan. Misalnya saja, anak gadis dari kalangan masyarakat adat tertentu kurang mendapat dukungan semestinya dari keluarga untuk meraih prestasi tertentu –– dalam bidang pendidikan, kesenian, olahraga, dan sebagainya –– hanya karena tradisi adat menganggap perempuan lebih pantas berada dan beraktivitas di dapur.
Semua itu adalah hambatan yang datang dari lingkungan. Hambatan dari lingkungan tampaknya akan selalu ada. Hambatan dari lingkungan sangat sulit untuk dihilangkan sepenuhnya karena melibatkan banyak sekali faktor yang berada di luar diri kita. Oleh karena itulah, kita dituntut untuk cerdik menghadapinya. Biarpun sangat sulit untuk dilenyapkan sama sekali, hambatan dari lingkungan dapat dinetralisasi jika kita pandai menghadapinya. Kuncinya adalah kita harus tegas dalam pendirian dan teguh memegang prinsip sehingga tidak mudah terpengaruh oleh keadaan.
Selain itu, kita juga harus pandai meyakinkan bahwa prestasi yang akan kita capai tidak akan mencederai tatanan dan nilai-nilai kehidupan yang berlaku di sekitar kehidupan kita. Sebaliknya, prestasi tersebut justru akan memperkuat tatanan dan nilai-nilai yang dimaksud. Prestasi dalam bidang apa pun, selama itu positif (tidak bertentangan dengan norma), pada hakikatnya tidak akan mengganggu tatanan dan nilai-nilai kehidupan, melainkan akan turut memperkukuhnya serta mengangkat derajat dan mengharumkan nama masyarakat setempat.


Mendayagunakan Potensi


Sumber: televendasecobranca.com.br
Potensi sering tidak terlihat dan tidak terasakan sehingga seolah-olah menjadi misteri: ada “bendanya”, tetapi tidak berwujud atau berwujud samar-samar saja. Dengan kata lain, potensi masih merupakan daya atau kekuatan terpendam yang keberadaannya belum muncul dan memberi manfaat secara optimal. Untuk membuat potensi menjadi optimal dan berdaya guna, diperlukan adanya dua hal, yakni ambisi dan upaya pengasahan.
1.  Perlunya Ambisi
Ambisi adalah hasrat yang kuat dan besar untuk dapat melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu –– melakukan sesuatu, misalnya, memecahkan rekor dan menaklukkan puncak gunung; menjadi sesuatu, misalnya, menjadi atlet, seniman, dan direktur. Ambisi akan menggerakkan orang untuk berusaha keras melakukan hal yang diperlukan demi terwujudnya keinginan. Jika seseorang berambisi menjadi olahragawan terkenal, maka ia akan berusaha sekuat tenaga mewujudkan ambisi-nya tersebut.
Dengan ambisi, kita akan terpacu untuk melakukan usaha. Sebaliknya, tanpa ambisi, kita mudah mengalami kemandekan. Tanpa ambisi, kita cenderung merasa puas dan pasrah dengan apa yang sudah kita peroleh sehingga menjadi tidak termotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik, lebih besar, dan lebih tinggi. Tanpa memiliki ambisi, kita akan pasif sehingga kemungkinan kita tidak akan mengetahui potensi diri atau mengetahuinya, tetapi cenderung tidak peduli.
Oleh sebab itu, untuk mengetahui potensi diri, kita membutuhkan ambisi. Ambisi akan mendorong kita untuk mencapai sesuatu; sedangkan untuk mencapai sesuatu itu kita akan berusaha menggali dan mengetahui potensi diri. Akan tetapi, kita tidak boleh mengumbar ambisi secara berlebihan. Ambisi yang berlebihan dapat menyebabkan munculnya sikap membabi buta yang tidak peduli pada etika, hukum, dan tata tertib sehingga justru akan menjerumuskan kita pada tindakan melanggar hukum dan kegagalan.
2.  Pengasahan Potensi
Potensi yang dimiliki setiap manusia pada awalnya masih merupakan daya yang diam atau pasif. Potensi ibarat bahan mentah yang teronggok di tempat penyimpanan serta belum dimanfaatkan dan diolah. Sebagai daya yang pasif, potensi membutuhkan sentuhan. Tanpa sentuhan, potensi selamanya hanya akan menjadi daya yang terlelap dan mungkin akhirnya akan sirna dan sia-sia. Barangkali memang benar jika dikatakan bahwa potensi ibarat “makhluk” tertidur yang harus dibangunkan dan dibangkitkan.
Potensi membutuhkan sentuhan agar bangkit dan bermanfaat. Artinya, potensi perlu digarap dengan cara diasah agar menjadi keterampilan atau kecakapan. Dengan kata lain, potensi harus dikembangkan menjadi kompetensi atau kemampuan yang riil atau nyata. Dengan mewujudnya potensi menjadi keterampilan atau kecakapan (kemampuan nyata), maka upaya untuk meraih prestasi menjadi memungkinkan untuk dilakukan.
Bagaimana cara mengasah potensi agar berkembang menjadi keterampilan atau kecakapan? Caranya tidak lain adalah dengan melatihnya secara tepat. Agar menjadi keterampilan atau kecakapan, potensi harus dilatih dengan metode atau cara yang benar. Adapun pelatihan untuk mengasah potensi juga harus dilakukan dengan rajin, tekun, teratur, ulet, disiplin, pantang menyerah, tidak cepat merasa puas, optimal, dan berkesinambungan.